Featured Post Today
print this page
Latest Post

Monyet Yang Lucu

Pada suatu hari seorang bapak (sebut aja pak adi) bertanya kepada kami: “Tahukah kalian keunikan monyet?”

Salah seorang dari kami menjawab: “Gak tau, emangnya apa keunikannya pak?”

Pak Adi: “Keunikan monyet adalah ia binatang yang sangat anti terhadap kotoran ayam”

Salah seorang dari kami berkata: “Apa benar?”

Pak Adi: “Benar”

Ketika obrolan berlangsung, pak Abdullah nimbrung dan berkata: “Itu betul, Suatu hari monyet tidak sengaja menyentuh kotoran ayam, (dengan sedikit kaget -red) ia pun langsung mencium tangannya. Ketika ia mendapati bau, maka si monyet dengan segera menggosok-gosokan tangan ke tanah, untuk menghilangkan kotoran ayam tersebut. Setelah menggosok-gosokan tangan, ia kembali menciumnya untuk memastikan bahwa kotoran tersebut telah hilang. Namun ketika ia mendekatkan tangan ke hidungnya, bau tersebut belum juga hilang. Ia kembali mengosok-gosokan tangannya ke tanah. Kemudian menciumnya, namun bau tersebut belum juga hilang. Tanpa menyerah ia terus mengosok-gosokan tangannya ke tanah, hingga tangannya berdarah”.

Pak Abd sambil tertawa kecil berkata: “Bau itu tidak hilang karena kotorannya menempel di hidungnya”

Salah seorang dari kami berkata: “Bagaimana hal itu bisa terjadi pak?”

Pak Abd: “Ketika ia mendekatkan tangan ke hidungnya, tanpa ia sadari kotoran tersebut mengenai hidung, maka walaupun berulang kali ia mengosokan tangannya, bau tersebut tidak akan hilang”.


Copas dari http://alsofwah.or.id/?pilih=lihatsenyum&id=777 
16 Sept 2013 Jam 14:30
Setelah mendengar cerita tersebut kami pun tertawa.
0 komentar

Saat Si Kecil Tumbuh Dalam Rahim


Penulis: Ummu ‘Abdirrahman Anisah bintu ‘Imran
Sakinah, Permata Hati, 29 - April - 2003, 01:27:41
Orang tua mengharap anaknya menjadi anak yang shalih adalah biasa. Sayangnya, tidak banyak orang tua yang mau menempuh jalan agar harapannya itu bisa terwujud. Padahal Islam telah banyak memberikan bimbingannya baik di dalam Al Qur’an maupun Sunnah, termasuk saat masih di dalam rahim.

Anak adalah sosok mungil idaman yang sangat dinanti kehadirannya oleh sepasang ayah bunda. Semenjak melangkah ke jenjang pernikahan, mereka berdua telah menumbuhkan harapan akan lahirnya si buah hati. Mereka terus memupuk harapan itu dengan menjaga calon bayi yang memulai kehidupannya di rahim ibunya, hingga saatnya hadir di dunia.

Setiap orang tua tentu menginginkan anaknya lahir dalam keadaan yang sebaik-baiknya. Segala upaya dikerahkan untuk mewujudkan keinginan mereka. Tentu tak patut dilupakan sisi-sisi penjagaan dan pendidikan yang telah diajarkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Bahkan dengan inilah orang tua akan mendapatkan kemuliaan bagi anaknya dan bagi diri mereka.

Dapat disimak pengajaran ini dalam indahnya sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam. Di sana didapati bimbingan yang sempurna untuk kita terapkan dalam mendidik anak. Bahkan sebelum hadirnya sosok mungil itu pun Islam telah memberikan tuntunan penjagaan. Terus demikian tuntunan itu secara runtut didapati hingga saat melepas anak menuju kedewasaan.

Saat Kedua Orang Tua Bertemu
Inilah tuntunan Islam sebelum bertemunya dua mani yang menjadi bakal janin dengan izin Allah. Usai pernikahan, ketika sepasang pengantin bertemu untuk pertama kalinya, disunnahkan mempelai pria memegang ubun-ubun istrinya dan mendoakannya. Didapati hal ini di dalam ucapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam:
“Apabila salah seorang dari kalian menikahi seorang wanita atau membeli seorang budak, maka hendaknya ia memegang ubun-ubunnya, menyebut nama Allah dan mendoakannya dengan barakah, serta mengucapkan, ‘Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kebaikannya dan kebaikan seluruh sifat yang Engkau jadikan padanya dan aku memohon perlindungan-Mu dari kejelekannya dan kejelekan sifat yang Engkau jadikan padanya.’ Apabila ia membeli unta, maka hendaknya ia pegang ujung punuknya dan berdoa seperti itu juga.” (Diriwayatkan oleh Imam al- Bukhari dalam Af’alil ‘Ibad dan Imam Abu Dawud, Ibnu Majah, al-Hakim, al-Baihaqi dan Abu Ya’la dalam Musnadnya dengan sanad hasan, dan disahihkan oleh Imam al-Hakim dan disepakati oleh Imam adz-Dzahabi. Lihat "Adabuz Zifaaf fis Sunnatil Muthahharah", hal. 20, karya Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullah)
Dalam suasana pengantin baru, sang mempelai tak lepas dari tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam. Demikian pula ketika kehidupan rumah tangga terus berlangsung. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam juga memberikan pengajaran kepada setiap suami istri untuk mulai menjaga calon anak mereka ketika mereka hendak bercampur (jima’). Beliau bersabda :
“Apabila salah seorang dari kalian ketika mendatangi istrinya mengatakan : ‘Dengan nama Allah, ya Allah, jauhkanlah syaithan dari kami dan jauhkanlah syaithan dari apa yang engkau rizkikan kepada kami’, jika Allah tetapkan terjadinya anak, syaithan tidak akan dapat memudharatkannya.” (Diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari)

Ibnu Hajar di dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa maksud perkataan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam “Syaithan tidak akan memudharatkannya” yaitu syaithan tidak akan memalingkan anak itu dari agamanya menuju kekafiran, dan bukan maksudnya terjaga dari seluruh dosa (‘ishmah).

Menjaga Janin dari Hal-hal yang Menggugurkannya

Ketika benih telah mulai tumbuh, banyak upaya yang dilakukan oleh sepasang calon ayah bunda untuk menjaga janin yang ada di perut ibunya. Sang calon ibu akan mulai memilih makanannya, mengkonsumsi segala macam vitamin yang dapat menunjang kehamilannya, menjaga waktu istirahatnya, melakukan olah raga khusus dan mengatur aktivitasnya. Tak lupa mereka memantau keadaan calon bayi dengan terus memeriksa kesehatannya.

Akan tetapi, adakalanya janin gugur bukan karena semata sebab medis. Terkadang ada sebab lain yang mengakibatkan gugurnya kandungan seorang ibu. Inii kadang-kadang tidak disadari oleh kebanyakan orang.

Semestinya kita mengetahui peringatan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam dari hal-hal semacam ini yang diterangkan oleh syari’at, sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam memerintahkan untuk membunuh ular yang disebut dengan dzu thufyatain yang dapat menyebabkan gugurnya janin. Beliau bersabda:
“Bunuhlah dzu thufyatain, karena dia dapat membutakan mata dan menggugurkan janin.”(Diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari)
Apakah dzu thufyatain? Dijelaskan oleh Ibnu ‘Abdil Barr bahwa dzu thufyatain adalah jenis ular yang mempunyai dua garis putih di punggungnya.

Perintah Rasulullah ‘Shallallahu ‘alaihi Wasallam ini menunjukkan wajibnya menjaga dan menjauhkan hal-hal yang dapat mebahayakan janin, dan ini merupakan salah satu pintu penjagaan dan perhatian syari’at ini terhadap janin dan keadaannya.

Keringanan bagi Wanita Hamil untuk Berbuka

Tak jarang kondisi seorang ibu yang mengandung calon bayi di dalam rahimnya lemah. Suplai makanan yang dikonsumsinya harus terbagi untuknya dan untuk janin yang ada di dalam kandungannya. Sementara ketika bulan Ramadhan tiba, kaum muslimin diwajibkan untuk melaksanakan puasa, menahan lapar dan dahaga dari terbitnya fajar hingga tenggelamnya bulatan matahari. Dengan ilmu dan hikmah-Nya, Allah Subhanahu wa ta’ala memberikan keringanan kepada hamba-hamba wanitanya yang sedang hamil dan menyusui untuk tidak menjalankan kewajiban berpuasa.

Ini dijelaskan dalam sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam:
“Sesungguhnya Allah Yang Maha Mulia dan Maha Tinggi menggugurkan separuh shalat atas orang yang bepergian dan menggugurkan kewajiban berpuasa dari wanita yang hamil dan menyusui.” (Diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi, an-Nasa’i, Abu Dawud, Ibnu Majah dan sanadnya hasan sebagaimana yang dikatakan oleh Imam at-Tirmidzi. Dihasankan oleh Syaikh Albani dalam "Shahih Sunan An Nasa'i" dan dalam "Shahih Sunan Ibnu Majah" no. 1353, beliau berkata: hadits hasan shahih)

‘Abdullah ibnu ‘Abbas radliyallahu‘anhuma memberikan penjelasan bahwa jika seorang wanita yang hamil mengkhawatirkan dirinya dan wanita yang menyusui mengkhawatirkan anaknya selama Ramadhan, maka keduanya berbuka (tidak berpuasa) dan setiap hari memberi makan satu orang miskin serta tidak mengqadha’ puasanya.

Inilah bentuk-bentuk penjagaan Islam terhadap anak sebelum ia lahir ke dunia. Terlihat dengan gamblang perlindungan agama Allah ini terhadap jiwa seorang manusia. Terbaca dengan jelas kasih sayang Allah Subhanahu wata’ala bagi seluruh hamba-Nya. Oleh karena itu, selayaknya ayah dan bunda memperhatikan penjagaan buah hati mereka.
“Barangsiapa yang menjaga kehidupan satu jiwa, maka seakan-akan ia menjaga kehidupan seluruh manusia.” (al-Maidah: 32)

Wallahu ta’ala a’lamu bish shawab.

Bacaan :
 Adabuz-Zifaaf, asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani
 Ahkamuth Thifl, asy-Syaikh Ahmad al-‘Aisawy
0 komentar

Cantik... Ku Izinkan Kau Merunduk

Subhanallah, nikmatnya bisa menjaga pandangan, ketika banyak orang yang mengumbar pandang bahkan saling pandang, nikmatnya ketika kita bisa istiqomah muraja’ah dan menghafal alqur’an disa’at alqur’an menjadi pajangan dan betapa nikmatnya bisa bangun pagi untuk setia mengaji dan shalat shubuh berjama’i, dan syukurku selalu disetiap waktu karna ku bisa ta’lim setiap minggu walau banyak badai yang mengganggu.

Sungguh kurela dan ridho bila kau selalu menundukkan pandangmu, semoga sahabat disekitamupun dapat mengikuti akhlak muliamu, alangkah mulianya jika kau selalu istiqomah dalam pendirianmu, dimana banyak pandangan mata yang tertuju pada dirimu, mata-mata liar, pandangan liar yang tak halal termasuk mataku, maka ma’afkanlah aku.
Mata yang seharusnya memalingkan semua itu, tapi justru terkadang tergelincir dan terkagum dalam memperhatikan tunduk pandangmu, maka kini kuizinkan kau merunduk demi kemulian kita semua dan akupun mencoba tuk merunduk, dimana ku tahu kesemuanya itu yang lebih mulia.

My sister and my brother, sebenarnya diri ini malu untuk terus melanjutkan tulisan ini, “namun apa daya tangan sampai tapi hati selalu ingin manggapai”.

Dikisahkan disuatu tempat study tingkat tinggi, dimana ada sesosok ukhty yang selalu berjilbab syar’i, ku yakin ia adalah seorang yang selalu rendah hati, berpribadi islami, selalu mendapat nilai study tertinggi, selalu hadir kuliah tak pernah absensi.

Alhamdulillah insya’Alloh sepertinya ia belum bersuami ;-) dan aku berharap ia mendamba seorang akhy yang seperti aku ini (hiii…hiii mimpi kali niy ;-) , aku yang sedang duduk manis di sini, asyik dengan menulis artikel-artikel remaja islami, mengharap calon istri seperti ukhty yang ada di cerita ini.

Tapi aku harus percaya diri dan selalu berbesar hati, berharap pada Yaa Rabbi Dzat Yang Maha Suci lagi Tinggi tak tertandingi, walau diri ini terkadang berkecil hati, dengan kondisi yang selalu menyudutkan ini, nilai selalu dibawah posisi rata-rata si ukhty, kuliah selalu absensi karna jam terbangku lumayan tinggi menjadi eksekutif muda islami sebelum kuliah kelar di perguruan tinggi, tak mengapalah aku sedikit berbesar hati hanya untuk mengobati sakit hati ini.

Dimana kuceritakan lagi, kali ini yang lebih menyakitkan hati dimana bayaranku pun selalu absensi yang setiap pertemuan aku bagai seorang selebriti yang dicari-cari, untuk menyelesaikan administrasi yakni orang yang di cari untuk segera melunasi bayaran study, maklumlah hari-hari seorang pejuang militansi islami, sesosok eksekutif muda islami hidup di atas kakiku sendiri, tanpa bantuan mami dan papi atau ummi dan abi yang dapat mengucuri aliran dompet di setiap hari.

Duch sedihnya aku ini, ku harus tersenyum dalam kesedihan ini, karna ku ingin mengejar bidadari islami, sesosok ukhty yang berjilbab syar’I lagi menundukkan pandangannya di setiap langkah si ukhty, aku ingin mengobati hatiku lagi, walaupun tadi dari segi nilai absensi dan nilai study aku selalu berada posisi yang menyakitkan hati, tapi kali ini dalam diskusi-diskusi dikampus kami, aku bisa unjuk gigi dan mampu memberikan jawaban pasti dan solusi bagi pemateri atau audiensi, ketika yang lain tak berarti disana aku maju dengan percaya diri, (batinku kepada sebagian temenku :“makanya ngaji dan aktif diorganisasi islami biar gak jadi pendengar setia ketika ada dikusi-diskusi terkini”.

Sudahlah semoga, sosok yang selalu menundukkan pandangnya di setiap langkah waktu itu, semoga menjadi mujahidah militant di setiap desah nafasnya, bagi lingkungannya dan temannya, orang tuanya, agamanya, bahkan sang pemimpin rumah tangganya dimasa nanti.

Dengan segala kekurangan diri ini, ku akhiri tulisan ini disini, semoga kata-katanya tak menyakiti para pembaca nanti, Depok Jum’at 15 Juli 2011 di pagi hari setelah subuh ku terinspirasi, kusempatkan mengaji lalu ku bla..blaa blaa disini, terimakasih Rabbi. Wassalam (Syari’ah Fighter Of Asy)
0 komentar

Istikharah Cinta

Album : Istikharah Cinta
Munsyid : Sigma

Bersaksi cinta diatas cinta
Dalam alunan tasbih ku ini
Menerka hati yang tersembunyi
Berteman dimalam sunyi penuh do'a

Sebut nama Mu terukir merdu
Tertulis dalam sajadah cinta
Tetapkan pilihan sebagai teman
Kekal abadi hingga akhir zaman

Istikharah cinta memanggilku
Memohon petunjukmu
satu nama teman setia
Naluriku berkata

Dipenantian luahan rasa
Teguh satu pilihan
Pemenuh separuh nafasku
Dalam mahabbah rindu

diistikharah cinta..
0 komentar

Satu Lagi Kisah Penuh Hikmah Umar bin Khattab r.a

Ini adalah sebuah penggalanisi buku Al Bidayah wan Nihayah Masa Khulafaur Rasyidin, yang akan menukilkan beberapa kisah, perkataan dan tindak-tanduk Umar bin Khaththab sebagai seorang khalifah atau Amirul Mukminin (pemimpin umat Islam) ketika itu yang penuh hikmah. Tulisan ini sangat menggugah perasan yang membaca, tentang bagaimana seorang pemimpin yang sangat takut pada Allah, hidup sangat bersahaja, berhati lembut terhadap umatnya,dan memegang teguh amanah kepemimpinannya dengan sangat luar biasa.
Umar pernah berkata, Tidak halal bagiku harta yang diberikan Allah kecuali dua pakaian. Satu untuk dikenakan di musim dingin dan satu lagi digunakan untuk musim panas. Adapun makanan untuk keluargaku sama saja dengan makanan orang-orang Quraisy pada umumnya, bukan standar yang paling kaya di antara mereka. Aku sendiri hanyalah salah seorang dari kaum muslimin.
Jika menugaskan para gubernurnya, Umar akan menulis perjanjian yang disaksikan oleh kaum Muhajirin. Umar mensyaratkan kepada mereka agar tidak menaiki kereta kuda, tidak memakan makanan yang enak-enak, tidak berpakaian yang halus, dan tidak menutup pintu rumahnya kepada rakyat yang membutuhkan bantuan. Jika mereka melanggar pesan ini maka akan mendapatkan hukuman.
Jika seseorang berbicara kepadanya menyampaikan berita, dan ia berbohong dalam sepatah atau dua patah kalimat, maka Umar akan segera menegurnya dan berkata, Tutup mulutmu, tutup mulutmu! Maka lelaki yang berbicara kepadanya berkata, Demi Allah sesungguhnya berita yang aku sampaikan kepadamu adalah benar kecuali apa yang engkau perintahkan aku untuk menutup mulut.
Muawiyah bin Abi Sufyan berkata,Adapun Abu Bakar, ia tidak sedikitpun menginginkan dunia dan dunia juga tidak datang menghampirinya. Sedangkan Umar, dunia datang menghampirinya namun dia tidak menginginkannya, adapun kita bergelimang dalam kenikmatan dunia.
Pernah Umar dicela dan dikatakan kepadanya, Alangkah baik jika engkau memakan makanan yang bergizi tentu akan membantu dirimu supaya lebih kuat membela kebenaran. Maka Umar berkata, Sesungguhnya aku telah ditinggalkan kedua sahabatku (yakni Rasulullah dan Abu Bakar) dalam keadaan tegar (tidak terpengaruh dengan dunia), maka jika aku tidak mengikuti ketegaran mereka, aku takut tidak akan dapat mengejar kedudukan mereka.
Beliau selalu memakai jubah yang terbuat dari kulit yang banyak tambalannya, sementara beliau adalah khalifah, berjalan mengelilingi pasar sambil membawa tongkat di atas pundaknya untuk memukul orang-orang yang melanggar peraturan. Jika beliau melewati biji ataupun lainnya yang bermanfaat, maka beliau akan mengambilnya dan melemparkannya ke halaman rumah orang.
Anas berkata, Antara dua bahu dari baju Umar, terdapat empat tambalan, dan kainnya ditambal dengan kulit. Pernah beliau khutbah di atas mimbar mengenakan kain yang memiliki 12 tambalan. Ketika melaksanakan ibadah haji beliau hanya menggunakan 16 dinar, sementara beliau berkata pada anaknya, Kita terlalu boros dan berlebihan.
Beliau tidak pernah bernaung di bawah sesuatu, tetapi beliau akan meletakkan kainnya di atas pohon kemudian bernaung di bawahnya. Beliau tidak memiliki kemah ataupun tenda.
Ketika memasuki negeri Syam saat penaklukan Baitul Maqdis beliau mengendarai seekor unta yang telah tua. Kepala beliau yang botak bersinar terkena matahari. Waktu itu beliau tidak mengenakan topi ataupun surban. Kaki beliau menjulur ke bawah kendaraan tanpa pelana. Beliau membawa satu kantong yang terbuat dari kulit yang digunakan sebagai alas untuk tidur jika beliau berhenti turun.
Ketika singgah di Baitul Maqdis beliau segera memanggil pemimpin wilayah itu dan berkata, Panggil kemari pimpinan wilayah ini. Orang-orang segera memanggilnya, ketika hadir Umar berkata padanya, Tolong cucikan bajuku ini sekaligus jahitkan dan pinjami aku baju. Maka dibawakan kepada beliau baju yang terbuat dari katun. Beliau bertanya, Apa ini? Dikatakan kepadanya bahwa baju ini terbuat dari katun. Beliau bertanya kepada mereka, Apa itu katun? Mereka memberitahukan kepadanya apa itu katun. Umar segera melepas bajunya lalu mencuci kemudian menjahitnya sendiri.
Diriwayatkan dari Anas ia berkata, Aku pernah bersama Umar, kemudian beliau masuk ke kebun untuk buang hajat, sementara jarak antara diriku dan dirinya hanyalah pagar kebun, aku dengar ia berkata pada dirinya sendiri, Hai Umar bin al-Khaththab, engkau adalah Amirul Mukminin, ya…engkau adalah Amirul mukminin! Demi Allah takutlah engkau kepada Allah hai Ibn al-Khaththab, jika tidak Allah pasti akan mengazabmu.
Disebutkan bahwasanya Umar pernah membawa tempat air di atas pundaknya. Sebagian orang mengkritiknya, namun beliau berkata, Aku terlalu kagum terhadap diriku sendiri oleh karena itu aku ingin menghinakannya. Pernah beliau melaksanakan shalat Isya bersama kaum muslimin, setelah itu beliau segera masuk ke rumah dan masih terus mengerjakan shalat hingga fajar tiba.
Pada tahun paceklik dan kelaparan, beliau tidak pernah makan kecuali roti dan minyak hingga kulit beliau berubah menjadi hitam, beliau berkata, Akulah sejelek-jelek penguasa apabila aku kenyang sementara rakyatku kelaparan.
Pada wajah beliau terdapat dua garis hitam disebabkan banyak menangis. Terkadang beliau mendengar ayat Allah dan jatuh pingsan karena perasaan takut, hingga terpaksa dibopong ke rumah dalam keadaan pingsan. Kemudian kaum muslimin menjenguk beliau beberapa hari, padahal beliau tidak memiliki penyakit yang membuat beliau pingsan kecuali perasaan takutnya.
Thalhah bin Ubaidillah berkata, Suatu ketika Umar keluar dalam kegelapan malam dan masuk ke salah satu rumah, maka pada pagi hari aku mencari rumah tersebut dan aku datangi, ternyata dalam rumah itu terdapat seorang perempuan tua yang buta sedang duduk. Aku tanyakan kepadanya, Mengapa lelaki ini (Umar) datang ke rumahmu? Wanita itu menjawab, Ia selalu mengunjungiku setiap beberapa hari sekali untuk membantuku membersihkan dan mengurus segala keperluanku. Aku berkata kepada diriku, Celakalah dirimu wahai Thalhah, kenapa engkau memata-matai Umar?
Aslam Maula Umar, pengawal Umar, berkata, Pernah datang ke Madinah satu rombongan saudagar, mereka segera turun di mushalla, maka Umar berkata kepada Abdurrahman bin Auf, Bagaimana jika malam ini kita menjaga mereka? Abdurrahman berkata, Ya, aku setuju! Maka keduanya menjaga para saudagar tersebut sepanjang malam sambil shalat. Namun tiba-tiba Umar mendengar suara anak kecil menangis, segera Umar menuju tempat anak itu dan bertanya kepada ibunya, Takutlah engkau kepada Allah dan berbuat baiklah dalam merawat anakmu. Kemudian Umar kembali ke tempatnya. Kemudian ia mendengar lagi suara bayi itu dan ia mendatangi tempat itu kembali dan bertanya kepada ibunya seperti pertanyaan beliau tadi.
Setelah itu Umar kembali ke tempatnya semula. Di akhir malam dia mendengar bayi tersebut menangis lagi. Umar segera mendatangi bayi itu dan berkata kepada ibunya, Celakalah engkau, sesungguhnya engkau adalah ibu yang buruk, kenapa aku mendengar anakmu menangis sepanjang malam? Wanita yang tidak mengenali Umar itu menjawab, Hai tuan, sesungguhnya aku berusaha menyapihnya dan memalingkan perhatiannya untuk menyusu tetapi dia masih tetap ingin menyusu. Umar bertanya, Kenapa engkau akan menyapihnya? Wanita itu menjawab, Karena Umar hanya memberikan jatah makan terhadap anak-anak yang telah disapih saja. Umar bertanya kepadanya, Berapa usia anakmu? Dia menjawab baru beberapa bulan saja. Maka Umar berkata, Celakalah engkau kenapa terlalu cepat engkau menyapihnya? Maka ketika shalat subuh bacaan Umar nyaris tidak terdengar jelas oleh para makmum disebabkan tangisnya.
Beliau lalu berkata, Celakalah engkau hai Umar berapa banyak anak-anak bayi kaum muslimin yang telah engkau bunuh. Setelah itu ia menyuruh salah seorang pegawainya untuk mengumumkan kepada seluruh orang, Janganlah kalian terlalu cepat menyapih anak-anak kalian, sebab kami akan memberikan jatah bagi setiap anak yang lahir dalam Islam. Umar segera menyebarkan berita ini ke seluruh daerah kekuasaannya.
Aslam berkata, Pernah suatu malam aku keluar bersama Umar ke luar kota Madinah. Kami melihat ada sebuah tenda dari kulit, dan segera kami datangi, ternyata di dalamnya ada seorang wanita sedang menangis. Umar bertanya tentang keadaannya, dan dia menjawab, Aku adalah seorang wanita Arab yang akan bersalin (melahirkan) sedangkan aku tidak memiliki apapun. Umar menangis dan segera berlari menuju rumah Ummu Kaltsum binti Ali bin Abi Thalib, istrinya, dan berkata, Apakah engkau mau mendapatkan pahala yang akan Allah karuniakan kepadamu? Segera Umar memberitakan padanya mengenai wanita yang dilihatnya tadi, maka istrinya berkata, Ya, aku akan membantunya. Umar segera membawa satu karung gandum beserta daging di atas bahunya, sementara Ummu Kaltsum membawa peralatan yang dibutuhkan untuk bersalin, keduanya berjalan mendatangi wanita tersebut. Sesampainya di sana Ummu Kaltsum segera masuk ke tempat wanita itu, sementara Umar duduk bersama suaminya, yang tidak mengenal Umar, sambil berbincang-bincang.
Akhirnya wanita itu berhasil melahirkan seorang bayi. Ummu Kaltsum berkata kepada Umar, Wahai Amirul Mukminin sampaikan berita gembira kepada suaminya bahwa anaknya yang baru lahir adalah lelaki. Ketika lelaki itu mendengar perkataan Amirul Mukminin ia merasa sangat kaget dan minta maaf kepada Umar. Namun Umar berkata kepadanya, Tidak mengapa. Setelah itu Umar memberikan kepada mereka nafkah dan apa yang mereka butuhkan lantas beliaupun pulang.
Aslam berkata, Suatu malam aku keluar bersama Umar bin al-Khaththab ke dusun Waqim. Ketika kami sampai di Shirar, kami melihat ada api yang dinyalakan. Umar berkata, Wahai Aslam di sana ada musafir yang kemalaman, mari kita berangkat menuju mereka. Kami segera mendatangi mereka dan ternyata di sana ada seorang wanita bersama anak-anaknya sedang menunggu periuk yang diletakkan ke atas api, sementara anak-anaknya sedang menangis. Umar bertanya, Assalamu alaiki wahai pemilik api. Wanita itu menjawab, Wa alaika as-Salam, Umar berkata, Kami boleh mendekat? Dia menjawab, Silahkan! Umar segera mendekat dan bertanya, Ada apa gerangan dengan kalian? Wanita itu yang juga tak mengenali Umar menjawab, Kami kemalaman dalam perjalanan serta kedinginan. Umar kembali bertanya, Kenapa anak-anak itu menangis? Wanita itu menjawab, Karena lapar. Umar kembali bertanya, Apa yang engkau masak di atas api itu? Dia menjawab, Air agar aku dapat menenangkan mereka hingga tertidur. Dan Allah kelak yang akan jadi hakim antara kami dengan Umar.
Maka Umar menangis dan segera berlari pulang menuju gudang tempat penyimpanan gandum. Ia segera mengeluarkan sekarung gandum dan satu ember daging, sambil berkata, Wahai Aslam naikkan karung ini ke atas pundakku. Aslam berkata, Biar aku saja yang membawanya untukmu. Umar menjawab apakah engkau mau memikul dosaku kelak di hari kiamat? Maka beliau segera memikul karung tersebut di atas pundaknya hingga mendatangi tempat wanita itu. Setelah meletakkan karung tersebut beliau segera mengeluarkan gandum dari dalamnya dan memasukkannya ke dalam periuk. Setelah itu ia memasukkan daging ke dalamnya. Umar berusaha meniup api di bawah periuk hingga asap menyebar di antara jenggotnya untuk beberapa saat. Setelah itu Umar menurunkan periuk dari atas api dan berkata, Berikan aku piring kalian! Setelah piring diletakkan segera Umar menuangkan isi periuk ke dalam piring itu dan menghidangkannya kepada anak-anak wanita itu dan berkata, Makanlah! Maka anak-anak itu makan hingga kenyang, wanita itu berdoa untuk Umar agar diberi ganjaran pahala sementara dia sendiri tidak mengenal Umar.
Umar masih bersama mereka hingga anak-anak itu tertidur pulas. Setelah itu Umar memberikan kepada mereka nafkah lantas pulang. Umar berkata kepadaku, Wahai Aslam sesungguhnya rasa laparlah yang membuat mereka begadang dan tidak dapat tidur.
Semoga sepenggal kisah yang penuh hikmah kehidupan Umar bin Khattab sewaktu menjadi khalifah ini bermanfaat.

 http://kisahislami.com/satu-lagi-kisah-penuh-hikmah-umar-bin-khattab-r-a/   Jumat Jam 14:30 13 Sept 2013

0 komentar

Do'aku

Album :
Munsyid : Ali Sastra


Mohon dengarkan Aku malam ini

Untuk ringankan langkah kaki dengarkanlah

Doaku semoga aku tak terlambat memberi yang terbaik dari hidupku

Semoga kau terima semua ibadahku

Masukkanlah diriku untuk kekal di Surgamu

Mohon pilihkan dari yang kupinta

Pilih yang terbaik untukku

Doaku….

Doaku semoga Aku tak terlambat

Memberi yang terbaik dari hidupku

Semoga Engkau terima semua ibadahku

Masukkanlah diriku untuk kekal di Surga-Mu
0 komentar

Azalia Ali Sastra

Album :
Munsyid : Ali Sastra
Cipt: Aden Edcoustic


kulihat bintang-bintang
tersenyum saksikan kau merekah
sang kumbang datang hap hap hinggap perlahan
bunganya merekah berkembang kembang

warnamu merah merah
semerah danau di katumiri
aku melangkah tu wa ga mendekati
betapa indahnya ku suka

Reff
detik detik waktuku kian berlalu
tak jemu aku memandangnya
detak detak jantung ku berdenyut selalu
ku jatuh hati memetiknya
azalia kau bunga yang ku cinta

detak-detak jantungku berdenyut slalu
ku jatuh hati memetiknya
azalia kau bunga yg ku cinta
0 komentar

Muhasabah Cinta

Album :
Munsyid : EdCoustic
http://liriknasyid.com

Wahai... Pemilik nyawaku
Betapa lemah diriku ini
Berat ujian dariMu
Kupasrahkan semua padaMu

Tuhan... Baru ku sadar
Indah nikmat sehat itu
Tak pandai aku bersyukur
Kini kuharapkan cintaMu

Reff. :
Kata-kata cinta terucap indah
Mengalun berzikir di kidung doaku
Sakit yang kurasa biar jadi penawar dosaku
Butir-butir cinta air mataku
Teringat semua yang Kau beri untukku
Ampuni khilaf dan salah selama ini
Ya ilahi....
Muhasabah cintaku...

Tuhan... Kuatkan aku
Lindungiku dari putus asa
Jika ku harus mati
Pertemukan aku denganMu

Back to Reff.
0 komentar

Kami Generasi Qur’ani

"Generasi baru yang kini terus menyemaikan benihnya, tumbuh di setiap sudut pelosok negri, yang terus terkekang dengan segala system syaitoni, tanpa belas kasihan pada kami, dimana pemikiran dan hati kami terus dihujani dan di kebiri, terkikis dan terkikis, terlumuri dan terlumuri, terhinakan dan terkontaminasi, tak layak dan tak layak bagi generasi kami yang suci bak kertas putih yang terlahir mendapat sertifikasi fitrah islami."

Namun peradaban laknat, budaya manusia jahili, dan system masyarakat non islami yang menggiring kami pada brainwash (cuci otak) dengan pemikiran syaitoni, dan kebiasaan barat yang kini menjadi budaya kami, ayah ibu kami pun tak mengetahui bahkan sebagian dari mereka-pun menjadi bagian dari system buruk pada lingkungan kami dimana sampai kini tak mereka sadari.

Ayah….. Ibu…. Bebaskan kami….. lepaskan kami…..

Aku mencintai kalian sebatas karna kau orang tuaku… namun jika kau pun menjerumuskan kami kedalam lembah nista nan hina, maka kaupun musuhku….

Bukan karna kau adalah kau, tapi keyakinan dan cinta suci ini yang terhujam di dalam lubuk hati yang lebih suci dari semuanya… keyakinanku akan Rabb Yang Maha Kuasa akan Syari’atnya yang harus tegak dimuka bumi…

Karna tak ada cita-cita lain Jagat raya ini diciptakan dengan indahnya, melainkan karna kami dan kita semua harus tunduk patuh akan perintah mutlak-Nya….

Ayah…... Ibu…. Mengapa dunia seperti ini..

Ayah….. Ibu….. Awas ada api di sekitarmu…

“Kenapa Nak…? Kau mengigau..? kami aman disini… sudahlah jangan berlebihan dan keluar jalur umumnya jika kau memahami dunia ini…”

Tapi Yah… Bu… itu benar-benar api… mengapa kau tak menerima ucapanku… aku anakmu, aku mencintaimu bukan maksud ku membencimu dan memusuhimu, tapi ini sudah menjadi kepastian…

“Laa Thoata ila Mahluqin Fi Ma’syiati Kholiq”

“La Tajidu Qoumayyu’minuna Billahi….. dst… ( Ayat Terakhir di Q.S Al Mujadilah : 22)

“Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau sausdara-saudara atau pun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah rida terhadap mereka dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat) Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung. (AL Ayat)

(Ba’da Maghrib, Selasa, 5 Juli 2011)

Kutulis di saat hujan rintik-rintik, ketika akan menuju tempat mulia untuk menuntut ilmu… Ta’lim mingguan…. Kuatkan azam agar kaki ini dapat melangkah…

(by: The Fighter Of Asy)
0 komentar

Resep Lezat Kepiting Saus Tiram ala Rumahan

SALAH satu jenis hewan laut yang sangat lezat untuk dijadikan masakan adalah kepiting. Tak heran kepiting pun banyak diolah menjadi beraneka ragam olahan masakan, salah satunya yaitu Kepiting saus tiram.
Kepiting bumbu saus tiram ini banyak kita jumpai di rumah makan seafood dan restoran. Rasanya yang khas dan lezat membuat kepiting saus tiram ini menjadi salah satu makanan favorit.
Daripada Anda jajan di luar, lebih baik mencoba membuat sendiri di rumah. Anda ingin mencobanya? Berikut cara membuat kepiting saus tiram ala rumahan:

Bahan-bahan:
- 5 buah kepiting
- 4 sdm saus tiram
- Merica bubuk secukupnya
- 4 sdm saus tomat
- 4 sdm saus sambal botolan
- 3 sdm cabai merah giling
- Gula pasir secukupnya
Bumbu Halus:
- 6 buah cabai rawit merah, tumis sampai layu
- 2 cm jahe (haluskan)
- 6 siung bawang merah (tumis)
- 3 siung bawang putih (tumis)
Cara membuatnya:
1. Kepiting direbus sampai matang. Jangan lupa belah menjadi dua bagian.
2. Tumis bumbu halus hingga harum.
3. Tambahkan saus tiram, saos tomat, cabai merah giling, dan sisa bahan lainnya.
4. Masukkan kepiting, aduk-aduk hingga rata. Kemudian masak hingga kuahnya mengental
5. Setelah terasa harum, tambahkan air dan bumbu-bumbu yang lain. Aduk terus hingga mendidih.
6. Ketika sudah mendidih, masukkan kepiting yang sudah digoreng tadi. Aduk hingga kepiting tercampur dengan bumbu dan airnya menyusut, kemudian angkat.
7. Sajikan di atas piring dan untuk membuatnya lebih menarik, Anda bisa menambahkan potongan tomat dan selada.

Selamat mencoba......
( Gesti Arma / CN31 )
http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/kuliner/2013/05/20/359/Resep-Lezat-Kepiting-Saus-Tiram-ala-Rumahan     11 September 2013, 16:00 WIB
0 komentar

Kebaikan Versus Kefuturanku (Nasihat Untuk Semua)

Sahabat…. Luangkan mutiara indahmu untuk menasihatiku, agar diri ini tak begitu jauh menyimpang dari cahaya rabb-Ku…. Apapun itu sahabat, jiwa ini selalu lemah dan kan selalu lemah, jika kau sebagai sahabatku saja tak peduli dan tak mau menasihatiku, maka bagaimana dengan orang lain, pastilah akan lebih jauh lagi dariku, dengan kerendahan hatiku maka nasihatilah aku.

Dengan perfecknya system tempur syaitoni di berbagai lini kehidupan, dan dengan akal sehat yang kita miliki sekarang ini bisa dipastikan setiap pribadi kita dan remaja muslim pada umumnya, kita tidak bisa melawan semua itu hanya dengan bekal yang minim.

Sahabat… Aku yakin dimana jiwa ini butuh akan pencahayaan dari nasihat-nasihatmu, jika tidak maka keredupan akan meyertainya, kegundahan akan mengiringinya, kelemahan akan menjadi sahabatnya, kemalasan berislam akan menghiasinya, dan segala kefuturan ini akan menjadi sahabat setia jiwa, dimana seharusnya future ini adalah musuh utama bagi jiwa-jiwa yang selalu berazam di jalan Juang-Nya.

Sahabat…. Nasihatiku agar aku selalu eksis dalam shalat berjama’ah di masjid walau pun itu jauh terasa, aku malu dengan sahabat yang buta pada masa rasulullahpun masih beranjak kemasjid untuk berjama’ah karna ia mendengar adzan itu, tapi aku…?

Sahabat…. nasihatiku agar aku dapat menjaga perkataanku, agar tutur kataku selalu indah untuk di nikmati, dimana hati ini terasa sesak jika seharian terlalu banyak senda gurau yang ku lontarkan dari lisan ini, sahabat sanggupkah kau menasihatiku agar ku dapat lebih baik lagi.

Mungkinkah aku bisa menjaga pandanganku setiap sa’at dan setiap waktu, dimana aku malu dan iri akan untaian ayat al-Qur’an, semoga ku bisa mengamalkannya, “Katakanlah kepada laki – laki yang beriman : ”Hendaklah mereka menundukkan pandangannya.” (QS. An Nuur [24] : 30).

Dan sahabat….. Aku tak biasa untuk meninggalkan shalat subuh berjama’ah di masjid setiap pagi, tapi kadang kala Syaiton lebih berpengalaman dalam menggoda jiwa ini, karna kutahu mungkin usia mereka lebih lama dariku atau jam terbang syaiton lebih banyak dariku, maka sahabat nasihatilah aku.

“aku tak biasa shalat fardhuku sendirian, aku tak biasa bila shalat subuhku kesiangan, aku tak biasa..” (Alda parodis by gondes&asy)

Sahabat… Nasihatilah aku agar aku dapat selalu hadir dalam kajian keislaman, halaqoh islamiyah, tarbiyyah islamiyah, mentoring mingguan, kajian bulanan yang bisa memperbaiki keilmiahan dan tarbiyyah Dzatiyyah pada diri dan jiwaku ini, walau hujan menerpa, badai dan petir menyambar, dan keletihan tubuh didalam perjalanan mencoba menggoyahkan, namun jiwa harus terus bersabar karna perjalanan masih panjang.

(by: The Fighter Of Asy) (inspirasi pagi dan langsung Kutulis pagi hari Kamis 14 Juli 2011 Depok. MUHASABAH UNTUK KITA SEMUA

Di pagi yang indah di kota depok ini, lalu ku di ajak sahabat untuk bermain futsal bersama, futsal terakhir untuk sahabat yang kan meninggalkan kami karna ia mendapat tempat kerja yang baru). Tak banyak yang dapat kutulis kali ini semoga bermanfa’at untuk semua. Amin
0 komentar
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. SABILUNA - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger