Featured Post Today
print this page
Latest Post
Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan

Kisah Umar Mencarikan Suami Untuk Putrinya

📚 Kisah Umar Bin Khatthab Mencarikan Suami Untuk Putrinya

📝 Oleh: Ustadz Fauzan al-Mubarok

Tatkala sahabat Khunais bin Hadzafah, suami Hafshah binti Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu wafat, Umar sangat sedih atas anaknya yang menjanda dalam usia tidak lebih dari delapan belas tahun. Setalah pertimbangan panjang , dia pun memutuskan untuk mencarikan suami yang bisa melindungi dan menjaga putrinya tersebut.

Pilihan Umar jatuh pada Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, karena umar mengenal Abu Bakar Ash-Shiddiq sebagai orang yang tenang dan penuh perhitungan, sehingga membuatnya layak untuk Hafshah yang mewarisi darah ayahnya (kecemburuannya yang besar dan tabiat yang keras).

Umar kemudian menemui Abu Bakar untuk menyampaikan keadaan putrinya yang menjanda dalam usia muda, kemudian secara terbuka Umar menawarkan putrinya kepada Abu Bakar untuk dinikahinya. Akan tetapi Abu Bakar diam dan tidak menjawab sepatah kata pun.

Umar bingung menghadapi sikap Abu Bakar, dia pun pergi menemui Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu yang baru saja di tinggal wafat oleh istrinya, Ruqayah binti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena sakit setelah perang Badar. Umar berbicara kepada Utsman dan menawarkan agar dia menikahi putrinya, Hafshah.

Namun Utsman meminta waktu kepada Umar. Tak berselang lama, Utsman kemudian menjawab, “Aku belum ingin menikah hari ini”.

Sikap Abu Bakar dan Utsman radhiyallahu ‘anhuma menyesakkan dada Umar, karena keduanya adalah sahabatnya yang tidak buta atas sosok Umar.

Maka Umar memutuskan untuk pergi menemui Rasulullah dan mengadukan apa yang dialaminya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tersenyum dan bersabda: “Hafshah akan dinikahi oleh orang yang lebih baik dari Utsman, dan Utsman akan menikah dengan orang yang lebih baik dari Hafshah”.

Tak lama, Rasulullah kemudian melamar Hafshah, dan Umar pun sangat bahagia. Abu Bakar datang memberi ucapan selamat kepada Umar seraya berkata, “Jangan marah padaku, karena Rasulullah telah menyebut Hafshah dan tidak pantas bagiku membuka rahasia beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seanadainya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menikahinya, maka aku yang akan menikahinya”.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahi Hafshah. Hafshah selalu berdiri di samping ‘Aisyah binti Abu Bakar Ash-Shiddiq. Hafshah selalu ingat ucapan bapaknya yaitu Umar bin Khaththab:

Kamu tidak ada apa-apanya dengan ‘Aisyah, bapakmu tidak ada apa-apanya dengan bapaknya. Kadang-kadang Hafshah menentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, hingga beliau marah kepadanya. Tatkala Umar mengetahui hal itu, Umar memarahi Hafshah sambil berkata: “Ketahuilah putriku, aku memperingatkanmu dari adzab Allah dan kemarahan Rasulullah. Putriku, jangan tertipu oleh wanita itu yang membanggakan kecantikannya dan kecintaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepadanya. Demi Allah, aku mengetahui bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mencintaimu. Kalau bukan karena bapakmu ini, niscaya kamu diceraikannya. Itulah ucapan Umar bin Khaththab kepada putrinya”.

Suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berduaan dengan istrinya, Mariah dirumah Hafshah. Hafshah pun cemburu dan berkata: Aku telah mengetahui siapa yang bersamamu. Demi Allah engkau telah meremehkanku, engkau tidak melakukanya kecuali karena diriku tidak ada harganya bagimu. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membujuk Hafshah dan memberitahukan kepadanya secara rahasia bahwa dia (Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) mengharamkan Mariah dan memintanya agar merahasiakannya. Akan tetapi Hafshah tidak bisa diam, dia menyampaikan kepada ‘Aisyah. Maka Allah Subhaanahu Wa Ta’ala menurunkan firman-Nya tentang pengharaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Mariah dan pembeberan Hafshah tentang rahasia Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada ‘Aisyah serta keduanya yang bersekutu,

(يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَيَعْلَمُ مَا تُسِرُّونَ وَمَا تُعْلِنُونَ ۚ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ)

“Dia mengetahui apa yang ada di langit dan dibumi, dan mengetahui apa yang kamu
rahasiakan dan apa yang kamu nyatakan. Dan Allah maha mengetahui segala isi hati”. (QS. At-Taghabun 64 : 4)

Karena sikap Hafshah seperti itu, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menceraikan Hafshah dengan talak satu kemudian merujuknya karena kasihan kepada Umar yang menaruh tanah di atas kepalanya sambil berkata: “Setelah ini, Allah tidak lagi menggubris Umar dan putrinya. Maka Malaikat Jibril ‘alaihissalaam turun kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata: Allah memerintahkanmu agar merujuk Hafshah karena kasihan kepada Umar”.

Dalam riwayat yang lain, Jibril berkata: “Rujuklah Hafshah karena dia adalah wanita ahli berpuasa dan beribadah, dia istrimu di surga”.

Manakala Umar melihat putrinya menangis karena menyesal, Umar berkata kepada putrinya: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mentalakmu satu dan merujukmu demi diriku. Jika beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mentalakmu sekali lagi, maka aku tidak akan berbicara kepadamu”. Wallahu a’lam…

[Diambil dari buku موسوعة قصص السلف ، أحمد سالم بادويلان]

0 komentar

Anak Yang Jujur

Siapa tak kenal Imam Syafi'i rahimahullahu!
Beliau yang memiliki nama asli Muhammad
bin Idris ini merupakan salah seorang Imam
panutan bagi masyarakat muslim di dunia.
Beliau adalah peletak dasar ilmu Ushul Fiqih
melalui kitabnya Ar-Risalah. Keilmuwan
beliau sangat diakui dan pendapat-pendapat
serta pemikiran beliau menjadi rujukan.
Tidak hanya di bidang ilmu, beliau ternyata
juga merupakan teladan dalam moral dan
akhlak. Bahkan, sejak beliau kecil, Imam yang
yang berasal dari keturunan Quraisy ini
sudah menjadi uswah bagi umat Islam.
Salah satu hikayat tentang kejujuran beliau
dapat kita renungkan dalam riwayat berikut
ini. Syahdan, ketika Imam asy-Syafi
rahimahullah hendak berangkat belajar ke
Madinah belajar kepada Imam Malik
rahimahullah, beliau berkata Ibu nya :
"Wahai ibu, berilah saya nasehat !"
Ibunya berkata :
"Wahai anak ku, berjanjilah kepada ku untuk
tidak berdusta."
Imam asy-Syafi'i rahimahullah berkata :
"Saya berjanji kepada Allah lalu kepada mu
untuk tidak berdusta."
Beliau waktu usia nya masih kecil, dibekali
oleh ibu nya uang 400 dirham.. Beliau
menaiki hewan tunggangan nya dan keluar
bersama rombongan menuju Madinah, Imam
asy-Syafi menyimpan uang itu didalam
sebuah kantong yang ia jahit disela-sela
bajunya..
Ditengah - tengah perjalanan, tiba-tiba ada
sekawanan penyamun yang hendak
merampok dan merampas seluruh harta
rombongan tersebut, tatkala sampai
dihadapan Imam asy-Syafi'i yang masih kecil,
para perampok itu bertanya :
"Apakah kamu membawa uang ??"
Imam asy-Syafi'i yang masih kecil ini
menjawab :
"Iya"
Perampok :
"Berapa ??"
Asy-Syafi'i :
"Saya membawa uang 400 dirham."
Para perampok tersebut tertawa sambil
mengejek beliau dan berkata :
"Pergilah, apakah kamu hendak mengolok -
olok kami ??" Pergilah sana. mana mungkin
anak kecil seperti mu membawa uang
sebanyak itu!". kata para perampok dengan
tidak percaya).
Kemudian asy-Syafi'i berhenti disamping
rombongan kafilah yang dirampok. Pemimpin
penyamun itu berkata kepada anak buah nya
:
"Apakah kalian telah mengambil semuanya ??"
Mereka menjawab :
"Ya"
Pemimpin rampok : "Apakah kalian tidak
meninggalkan seorang pun ??"
Mereka (anak buah) menjawab : "Tidak,
kecuali seorang anak kecil yang mengaku
telah membawa uang sebanyak 400 dirham,
namun anak tersebut gila atau hanya ingin
mengolok - olok kita, sehingga kami pun
menyuruhnya pergi."
Pemimpin rampok berkata : "Bawa anak itu
kemari."
Mereka pun membawa Syafi'i kecil. Kemudian
pemimpin rampok itu bertanya kepada beliau
: "Apakah kamu membawa uang, wahai anak
kecil ??"
Syafi'i kecil menjawab : "Ya"
Pemimpin Rampok berkata : "Berapa uang
yang kamu bawa??"
Syafi'i kecil : "Empat ratus dirham."
Pemimpin perampok itu bertanya lagi:
"Dimana uang itu ??"
Lalu Syafi'i kecil mengeluarkan uang tersebut
dari balik pakian nya dan menyerahkan nya
kepada pemimpin kawanan perampok
tersebut..
Pemimpin rampok itu menuangkan uang -
uang tersebut kepangkuan nya, lalu ia
memandangi syafi'i kecil dengan keheranan
dan berkata :
"Kenapa kamu jujur kepada ku ketika aku
tadi bertanya kepada mu, dan kamu tidak
berdusta kepadaku, padahal kamu tahu
bahwa uang mu akan hilang ??"
Syafi'i pun menjawab : "Saya jujur kepada mu
karena saya telah berjanji kepada ibu ku
untuk tidak berdusta kepada siapa pun."
Mendengar penuturan Syafi'i kecil itu, tiba -
tiba tangan pemimpin rampok itu berhenti
memain - mainkan uang 400 dirham tersebut,
karena hatinya telah bergetar karena hidayah
dari Allah..
Lalu pemimpin rampok itu berkata sambil
mengembalikan uang tersebut kepada Syafi'i
kecil :
"Ambillah uang mu, kamu takut untuk
mengkhianati janji mu kepada ibu mu,
sedangkan aku tidak takut berkhianat kepada
janji Allah Subhanhu wa ta'ala ?? Pergilah,
wahai anak kecil dalam keadaan aman dan
tenang, karena aku telah bertaubat kepada
Zat yang Maha menerima taubat lagi Maha
Penyayang melalui kedua tangan mu dengan
taubat ini dan aku tidak akan pernah
mendurhakai-Nyalagi selamanya."
Kemudian pemimpin kawanan perampok itu
memandang anak buahnya dan berkata :
ﺇﻥّ ﺍﻟﻠﻪ ﻳﺎﻣﺮﻛﻢ ﺃﻥ ﺗﺆﺩّﻭﺍ ﺍﻷﻣﺎﻧﺎﺕ ﺇﻟﻰ ﺃﻫﻠﻬﺎ
"Sesungguhnya Allah menyuruh kamu
menyampaikan amanat kepada orang yang
berhak menerima nya. .." [An-Nisa ayat 58].
Lalu anak buahnya berkata sambil membawa
harta dan berbagai perhiasan rombongan
kafilah yang mereka rampok tadi dan
mengembalikan nya, dan mereka berkata
kepada pemimpin mereka : "Wahai tuan kami,
anda telah bertaubat dengan Zat Yang Maha
Menerima taubat lagi Maha Penyayang,
sedangkan anda adalah pemimpin kami. Oleh
karena itu kami lebih pantas untuk bertaubat
daripada anda."
Akhirnya mereka semua bertaubat kepada
Allah, lewat kejujuran Imam asy-Syafi'i kecil..
[ Diringkas dan disadur dari buku Biografi Imam
Syafi'i hal 17-20, Abdul Aziz asy-Syinawi. Judul
aslinya Al-Aimmah Al-Arba'ah Hayatuhum
Mawaqifuhum Ara'ahum Qadhiyusy Syariah al-
Imam asy-Syafi'i ]

0 komentar

Tukang Tenun Yang Mengurai Tenunannya

Dahulu di Makkah, pada zaman Rasulullah saw, ada orang gila yg kelakuannya setiap hari menenun benang menjadi kain. 
Namun setiap usai benang ditenunnya menjadi kain yg indah, dia bongkar kain indah itu, dia lepas-lepaskan lagi benang-benangnya semuanya.
Lalu dia tenun lagi, lalu dia bongkar lagi. Lalu dia tenun lagi, lalu dia lepas-lepaskan lagi. Demikian perbuatannya terus menerus.

Maka Allah Ta'ala menjadikan kelakuan orang gila tersebut, menjadi perumpamaan dalam Al Quran.

وَلَا تَكُونُوا كَالَّتِي نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ أَنْكَاثًا

"Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali" (QS. An Nahl : 92)

Selama Ramadhan kemarin, kita menenun "ketakwaan" kita dengan "benang-benang" Shaum, Tarawih, Tadarus, shalat di mesjid, Shadaqah.
Bila selepas Ramadhan, kita bongkar lagi kain "Taqwa" yg telah kita tenun indah itu, kita lepas semua benang-benangnya. Kita tinggal shaumnya, qiyamullailnya, tadarusnya, masjidnya, Shadaqahnya di Ramadhan berikutnya, kita tenun lagi, lalu kita bongkar lagi.

APA TAK MIRIP KITA DENGAN ORANG GILA TERSEBUT ....???

Maka mari buktikan kepada Allah Ta'ala kesungguhan dan keberhasilan pelatihan taqwa di Ramadhan kemarin dengan kesalehan ritual dan kesalehan sosial sepanjang tahun ke depan.

Aamiin..

(Copas,) WA

0 komentar

Kisah Penggugah Qalbu

Kisah ini didapatkan dari Riyadh Saudi Arabia. Di sebuah desa Huraimla, ada seorang wanita yang sudah dinyatakan oleh Dokter terkena Kanker darah, kondisi fisiknya sudah tidak bisa lagi berbuat apa-apa. Untuk merawat dirinya dan memenuhi semua keperluannya, dia mendatangkan pembantu dari Indonesia. Pembantu ini adalah seorang wanita yang taat beragama.

Satu minggu setelah bekerja, Majikan merasa pekerjaannya dianggap bagus. Majikan wanita selalu memperhatikan apa yang dia kerjakan. Suatu waktu si Majikan memperhatikan kelakukan aneh si pembantu. Pembantunya ini sering sekali ke kamar mandi dan berdiam cukup lama.

Dengan tutur kata yang lemah lembut si Majikan bertanya. "Apa yang sebenarnya engkau lakukan di kamar mandi?" Pembantu itu tidak menjawab, tetapi justru menangis tersedu-sedu. Si majikan menjadi iba dan kemudian menghiburnya sambil menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.

Akhirnya Pembantunya itupun bercerita bahwa dirinya baru 20 hari melahirkan anaknya. Karena desakan ekonomi itulah dia terpaksa berangkat bekerja sebagai TKW di Arab Saudi.

"Saya harus membuang air susu saya Bu, kalau tidak dibuang dada saya terasa sesak dan penuh karena tidak disusu oleh anak saya."

Air susu yang menumpuk dan tidak tersalurkan itulah yang membuatnya sakit sehingga harus diperas dan dibuang di kamar mandi.

"Subhanallah, Anda berjuang untuk anak dan keluarga Anda," kata majikan. Ternyata Majikannya tidak seburuk seperti yang diceritakan di koran-koran atau televisi. Seketika itu juga si majikan memberikan gajinya secara penuh selama 2 tahun sesuai dengan akad kontraknya dan memberikannya tiket pulang.

"Kamu pulanglah dulu, uang sudah saya berikan penuh untuk 2 tahun kontrakmu, kamu susui anakmu secara penuh selama 2 tahun dan jika kamu igin kembali bekerja kamu mengubungi telepon ini sekaligus saya akan mengirim uang untuk tiket keberangkatanmu."

"Subhanallah, apa Ibu tidak apa-apa saya tinggal?" Si majikan waktu itu hanya menggelengkan kepala bahwa apa yang kamu tinggal lebih berharga dari pada mengurus saya.

Setelah pembantu itu pulang, majikan mengalami perubahan luar bisa. Pikirannya menjadi terfokus pada kesembuhan dan hatinya menjadi sangat senang karena dapat membantu orang yang sedang kesulitan.

Hari-harinya tidak lagi memikirkan sakitnya lagi, yang ada hanyalah rasa bahagia. Sebulan kemudian dia baru kembali lagi ke rumah sakit untuk kontrol. Dokter yang menanganinya segera melakukan pemeriksaaan mendetail. Tapi apa yang terjadi?

Dokter yang menangani awal tidak melihat ada penyakit seperti diagnosa sebelumnya. Dia tidak melihat ada penyakit kanker darah yang diderita pasiennnya. Dokter itu terkagum-kagum, bagaimana mungkin bisa sedahsyat dan secepat itu penyakitnya bisa sembuh, apalagi kanker darah. Apa telah terjadi salah diagnosa?

Akhirnya Dokter itupun bertanya, apa sebenanrnya yang telah dilakukan oleh pasien.

Wanita itupun menjawab, "Saya tidak melakukan apa-apa dengan sakit saya, mungkin sedekah yang telah saya lakukan ke pembantu saya telah membantuku sembuh, nyatanya setelah saya menolong hati saya menjadi lebih bergairah untuk sembuh dan hidup, saya mempunyai pembantu yang sedang menyusui anaknya tapi susu itu tidak dapat disalurkan dan harus dibuang di kamar mandi."

Saya menangis apabila mengingat akan keadaannya, akhirnya pembantu itu saya suruh pulang agar bisa menyalurkan air sususnya dan dia sehat dan anaknya juga bisa sehat. Mungkin dengan itu akhirnya sakit saya sembuh Dokter.

Dokter itupun akhirnya tersadar, bahwa diagnosa dan sakit apapun bisa sembuh karena Allah SWT memang menghendakinya, "Obatilah orang yang sakit dengan sedekah."
Dikutip dari redaksi9...wallahu a'lam...

Grup WA

0 komentar

Kisah nyatayang inspiratif.

Di sebuah perusahaan pertambangan minyak di Arab Saudi, di akhir tahun40-an. Seorang pegawai rendahan, remaja lokal asli Saudi, kehausan dan bergegas mencari air untuk menyiram tenggorokannya yg kering. Ia begitu gembira ketika melihat air dingin yang tampak didepannya dan bersegera mengisi air dingin ke dalam gelas

Belum sempat ia minum, tangannya terhenti oleh sebuah hardikan: “Hei, kamu tidak boleh minum air ini. Kamu cuma pekerja rendahan. Air ini hanya khusus untuk insinyur” Suara itu berasal dari mulut seorang insinyur Amerika yang bekerja di perusahaan tersebut.

Remaja itu akhirnya hanya terdiam menahan haus. Ia tahu ia hanya anak miskin lulusan SD. Kalaupun ada pendidikan yang dibanggakan, ia lulusan lembaga Tahfidz Quran, tapi keahlian itu tidak ada harganya di perusahaan minyak yang saat itu masih dikendalikan oleh manajeman Amerika.

Hardikan itu selalu terngiang di kepalanya. Ia lalu bertanya-tanya: Kenapa ini terjadi padaku? Kenapa segelas air saja dilarang untuk ku? Apakah karena aku pekerja rendahan,sedangkan mereka insinyur ? Apakah kalau aku jadi insinyur aku bisa minum? Apakah aku bisa jadi insinyur seperti mereka?

Pertanyaan ini selalu tengiang-ngiang dalam dirinya. Kejadian ini akhirnya menjadi momentum baginya untuk membangkitkan “SIKAP POSITIF” . Muncul komitmen dalam dirinya. Remaja miskin itu lalu bekerja keras siang hari dan melanjutkan sekolah malam hari. Hampir setiap hari ia kurang tidur untuk mengejar ketertinggalannya.

Tidak jarang olok-olok dari teman pun diterimanya. Buah kerja kerasnya menggapai hasil. Ia akhirnya bisa lulus SMA. Kerja kerasnya membuat perusahaan memberi kesempatan padanya untuk mendalami ilmu. Ia dikirim ke Amerika mengambil kuliah S1 bidang teknik dan master bidang geologi. Pemuda ini lulus dengan hasil memuaskan. Selanjutnya ia pulang kenegerinya dan bekerja sebagai insinyur.

Kini ia sudah menaklukkan ”rasa sakit”nya, kembali sebagai insinyur dan bisa minum air yang dulu dilarang baginya. Apakah sampai di situ saja. Tidak, karirnya melesat terus. Ia sudah terlatih bekerja keras dan mengejar ketinggalan, dalam pekerjaan pun karirnya menyusul yang lain.

Karirnya melonjak dari kepala bagian, kepala cabang, manajer umum sampai akhirnya ia menjabat sebagai wakil direktur, sebuah jabatan tertinggi yang bisa dicapai oleh orang lokal saat itu.

Ada kejadian menarik ketika ia menjabat wakil direktur. Insinyur Amerika yang dulu pernah mengusirnya, kini justru jadi bawahannya.

Suatu hari insinyur tersebut datang menghadap karena ingin minta izin libur dan berkata; “Aku ingin mengajukan izin liburan. Aku berharap Anda tidak mengaitkan kejadian air di masa lalu dengan pekerjaan resmi ini. Aku berharap Anda tidak membalas dendam, atas kekasaran dan keburukan perilakuku di masa lalu”

Apa jawab sang wakil direktur mantan pekerja rendahan ini: “Aku ingin berterimakasih padamu dari lubuk hatiku paling dalam karena kau melarang aku minum saat itu. Ya dulu aku benci padamu. Tapi, setelah izin Allah, kamu lah sebab kesuksesanku hingga aku meraih sukses ini.

Kini sikap positfnya sudah membuahkan hasil, lalu apakah ceritanya sampai disini?

Tidak. Akhirnya mantan pegawai rendahan ini menempati jabatan tertinggi di perusahaan tersebut.
Ia menjadi Presiden Direktur pertama yang berasal dari bangsa Arab.

Tahukan Anda apa perusahaan yang dipimpinnya? Perusahaan itu adalah Aramco (Arabian American Oil Company)perusahaan minyak terbesar di dunia.

Ditangannya perusahaan ini semakin membesar dan kepemilikan Arab Saudi semakin dominan. Kini perusahaaan ini menghasilakn 3.4 juta barrels (540,000,000 m3) dan mengendalikan lebih dari 100 ladang migas di Saudi Arabia dengan total cadangan 264 miliar barrels (4.20×1010 m3) minyak dan 253 triliun cadangan gas.

Atas prestasinya Ia ditunjuk Raja Arab Saudi untuk menjabat sebagai Menteri Perminyakan dan Mineral yang mempunyai pengaruh sangat besar terhadap dunia.

Ini adalah kisah Ali bin Ibrahim Al-Naimi yang sejak tahun 1995 sampai saat ini menjabat sebagai Menteri Perminyakan dan Mineral Arab Saudi.

Terbayangkah, hanya dengan mengembangkan hinaan menjadi hal yang positif, isu air segelas di masa lalu membentuknya menjadi salah seorang penguasa minyak yang paling berpengaruh di seluruh dunia.

Itulah kekuatan”SIKAP POSITIF”

Kita tidak bisa mengatur bagaimana orang lain berperilaku terhadap kita …

Kita tidak pernah tahu bagaimana keadaan akan menimpa kita ….

Tapi kita sepenuhnya punya kendali bagaimana menyikapinya …
Apakah ingin hancur karenanya? Atau bangkit dengan semangat “Bersikap Positif” dan menjadi bagian dari solusi …

Have a great day with "Positive Thinking" ....

Sumber Group WA AS-SAKINAH

Dan smg kita juga anak2 dan keturunan kita punya mental pejuang seperti itu... amin

0 komentar

Kisah Di Masa Harun Ar Rasyid

Oleh : Ust. Budi Ashari, Lc

Maaf judulnya kurang nyaman didengar. Mungkin karena posisi kita tidak sedang berhadapan dengan musuh. Atau merasa tidak sedang berhadapan.

Kalimat di atas bukan kalimat saya. Hanya nukilan dari sebuah surat. Dari orang besar dalam sejarah Islam yang menunjukkan izzah (kemuliaan dan harga diri) muslim.

Kisahnya ada di masa Harun Ar Rasyid. Saat dia memerintah Dinasti Bani Abbasiyah dengan cemerlang untuk kebesaran Islam dan muslimin, Romawi dipimpin oleh seorang wanita yang bernama Reny.

Kekuatan muslimin di bawah kepemimpinan Harun Ar Rasyid sangat luar biasa. Kekuatan itu memaksa Romawi yang diwakili oleh Rajanya Reny meminta damai dan siap membayar jizyah tahunan mulai tahun 181 H / 797 M. Reny terus setia membayar setiap tahun ke kekhilafahan.

Hingga Reny meninggal tahun 186 H / 802 M. Penggantinya adalah mantan pejabat di Romawi yang bernama Naqfur. Naqfur sangat percaya diri karena didukung oleh semua pihak. Kepercayaan diri itu membuatnya nekad mengirim surat kepada Harun Ar Rasyid. Berikut bunyi suratnya,

Dari Naqfur Raja Romawi

Untuk Raja Arab

Sesungguhnya raja sebelum saya memposisikan anda sebagai raja (dalam catur) dan memposisikan dirinya sebagai prajurit, maka ia pun mengirimkan kepada anda hartanya dalam jumlah banyak. Itu dikarenakan kelemahan dan kebodohanya sebagai wanita. Jika anda telah membaca suratku ini, maka kembalikan semua hartanya yang telah anda terima dan tebuslah dirimu. Kalau tidak, pedang di antara kami dan anda.

Membaca surat tersebut, mencuatlah kemarahan Harun Ar Rasyid hingga tak ada satupun orang yang berani melihat wajahnya. Para stafnya bahkan bubar dari ruangannya karena takut. Begitu marahnya.

Harun Ar Rasyid pun meminta pena dan kertas. Dia menulis,

Bismillahirrahmanirrahim

Dari Harun Ar Rasyid Amirul Mu’minin

Untuk Naqfur anjing Romawi

Aku telah membaca suratmu, hai anak wanita kafir. Jawaban saya adalah apa yang akan anda lihat bukan apa yang anda dengar.

Harun Ar Rasyid kemudian menyiapka
n
pasukan dengan dia pimpin langsung. Yang dituju adalah Kota Hirqalah (dekat Konstantinopel).

Pertempuran pun terjadi. Dan muslimin mendapatkan kemenangan gemilang. Naqfur ketakutan dan segera minta damai dengan bersedia membayar kembali jizyah tahunan kepada muslimin. Jumlah yang harus dia bayar setiap tahun adalah 300.000 Dinar.

Selanjutnya Naqfur kembali mencoba ‘peruntungan’ dengan cara mengingkari kesepakatan tersebut. Maka, kembali Harun Ar Rasyid mengirimkan pasukan. Dan hasilnya lebih dahsyat lagi. Kekalahan Romawi, bayar jizyah tahunan dan ditambah melepaskan seluruh tawanan muslimin di Romawi. (Lihat: Tarikh Al Islam dan Siyar A’lam An Nubala’, keduanya karya Adz Dzahabi)

Inilah kisah sejarah Islam. Saat muslimin masih dekat dengan syariat Allah. Kemuliaan, harga diri, kehormatan, kekuatan. Hingga musuh tidak punya pilihan bahkan sekadar untuk mengancam. Tak pernah boleh ada yang mengganggu aqidah dan kehidupan muslimin.

Karena hanya Islam yang jika berkuasa, mampu menegakkan keadilan.

Duhai apakah masa lalu itu akan kembali

Sesungguhnya aku mengakui kerinduanku pada masa itu

Kita pernah membangun sekian lama kerajaan di bumi ini

Yang ditopang oleh generasi muda yang bergairah dan bercita tinggi (Hasyim Ar Rifa’i)

Saat itulah, keluarga-keluarga muslim berlomba melahirkan generasi sebanyak dan sehebat mungkin. Saat itulah, hampir tak ada orangtua yang khawatir peradaban kafir mempengaruhi anak-anak mereka. Saat itulah, yang ada adalah mempengaruhi dan mengarahkan dunia.

Grup WA

0 komentar

Ukasyah Radhiyallahu 'anhu

Bacalah sekaliiiii lagi kisah dibawah ini. Copas

💙 Ukasyah Radhiyallahu 'anhu

Dikatakan :

🌴 Kisah ini terjadi pada diri Rasulullah shollallohu 'alayhi wasallam sebelum meninggal.

Rasulullah telah jatuh sakit agak lama, sehingga kondisi beliau sangat lemah.

🌿 Pada suatu hari Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam meminta Bilal memanggil semua sahabat datang ke Masjid. Tidak lama kemudian, penuhlah Masjid dengan para sahabat. Semuanya merasa rindu setelah agak lama tidak mendpt taushiyah dari Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam
Beliau duduk dg lemah di atas mimbar. Wajahnya terlihat pucat, menahan sakit yang tengah dideritanya.

🌴 Kemudian Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Wahai sahabat-sahabatku semua. Aku ingin bertanya, apakah telah aku sampaikan semua kepadamu, bahwa sesungguhnya Allah subhanaahu wa ta ala itu adalah satu-satunya Rabb yg layak di sembah?"

🌿Semua sahabat menjawab dengan suara bersemangat, " Benar wahai Rasulullah, Engkau telah sampaikan kepada kami bahwa sesungguhnya Allah subhaanahu wa ta 'ala adalah satu-satunya Rabb yang layak disembah."
Kemudian Rasulullah  bersabda:
"Persaksikanlah ya Allah. Sesungguhnya aku telah menyampaikan amanah ini kepada  mereka."
Kemudian Rasulullah bersabda lagi, dan setiap apa yg Rasulullah sabdakan selalu dibenarkan oleh para sahabat.

🌴Akhirnya sampailah kepada satu pertanyaan yang menjadikan para sahabat sedih dan terharu. Rasulullah  bersabda:
"Sesungguhnya, aku akan pergi menemui  Allah. Dan sebelum aku pergi, aku ingin menyelesaikan segala urusan dengan manusia. Maka aku ingin bertanya kepada kalian semua. Adakah aku berhutang kepada kalian? Aku ingin menyelesaikan hutang tersebut. Karena aku tidak mau bertemu dengan Allah dalam keadaan berhutang dengan  manusia."

🌿Ketika itu semua sahabat diam, dan dalam  hati masing-masing berkata "Mana ada Rasullullah berhutang dengan kita? Kamilah yg banyak berhutang kepada  Rasulullah".
Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam mengulangi pertanyaan itu sebanyak 3 kali.

🌴Tiba-tiba bangun seorang lelaki yg bernama UKASYAH, seorang sahabat mantan preman sebelum masuk Islam, dia berkata:

"Ya Rasulullah! Aku ingin sampaikan masalah ini. Seandainya ini dianggap hutang, maka aku minta engkau selesaikan. Seandainya bukan hutang, maka tidak perlulah engkau berbuat apa-apa".

Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam berkata: "Sampaikanlah  wahai Ukasyah".

🌿Maka Ukasyah pun mulai bercerita:
"Aku masih ingat ketika perang Uhud dulu, satu ketika engkau menunggang kuda, lalu engkau pukulkan cambuk ke belakang kuda. Tetapi cambuk tersebut tidak kena pada belakang kuda, tapi justru terkena pada dadaku, karena ketika itu aku berdiri di
belakang kuda yg engkau tunggangi wahai Rasulullah".

🌴Mendengar itu, Rasulullah  berkata: "Sesungguhnya itu adalah hutang wahai Ukasyah. Kalau dulu aku pukul engkau, maka hari ini aku akan terima hal yg sama."
Dengan suara yg agak tinggi, Ukasyah berkata: "Kalau begitu aku ingin segera melakukannya wahai Rasulullah."

🌿Ukasyah seakan-akan tidak merasa bersalah mengatakan demikian. Sedangkan ketika itu sebagian sahabat berteriak marah pada Ukasyah. "Sungguh engkau tidak berperasaan Ukasyah. bukankah Baginda sedang sakit..!?"

Ukasyah tidak menghiraukan semua itu. Rasulullah  meminta Bilal mengambil cambuk di rumah anaknya Fatimah.

🌴Bilal meminta cambuk itu dari Fatimah, kemudian Fatimah bertanya: "Untuk apa Rasulullah meminta cambuk ini wahai Bilal?"

Bilal menjawab dg nada sedih: "Cambuk  ini akan digunakan Ukasyah utk memukul Rasulullah"
Terperanjat dan menangis Fatimah seraya berkata:
"Kenapa Ukasyah hendak pukul ayahku Rasulullah? Ayahku sedang sakit, kalau mau mukul, pukullah aku anaknya".

Bilal menjawab: "Sesungguhnya ini adalah urusan antara mereka berdua".

Bilal membawa cambuk tersebut ke Masjid lalu diberikan kepada Ukasyah.

🌿Setelah mengambil cambuk, Ukasyah menuju ke hadapan Rasulullah. Tiba-tiba Abu bakar berdiri menghalangi Ukasyah sambil berkata: "Ukasyah..! kalau kamu hendak memukul, pukullah aku. Aku orang yg pertama beriman dengan apa yg Rasulullah  samp [truncated by WhatsApp]

Grup WA

0 komentar

Mengapa Kalian Kalah

[💌 Mengapa Kalian Kalah ? 💌 ]

Setelah perang yarmuk selesai dengan kekalahan pasukan Romawi dari pasukan Islam, raja Romawi berkata kepada sisa sisa pasukan yang selamat :

Raja: “Celaka kalian! Kabarkan kepadaku tentang pasukan yang memerangi kalian, bukankah mereka manusia juga seperti kalian?”

Pasukan: “Benar paduka raja.”

Raja: “Apakah jumlah kalian lebih banyak atau jumlah mereka?”

Pasukan: “Jumlah kami jauh lebih banyak pada semua lini.”

Raja: “Lantas mengapa kalian kalah?”

Seorang pembesar Romawi menjawab: “Mereka dapat mengalahkan kita karena mereka selalu sholat malam, berpuasa, menepati janji dan saling berbuat adil diantara mereka. Sedangkan kita suka minum arak, berzina, melakukan keharaman, menyalahi janji, merampok, berbuat zalim, melarang kebaikan dan menyuruh kepada kemungkaran, dan berbuat kerusakan di muka bumi.”

Raja: “Kamu benar.”

(Al Bidayah wan Nihayah 7/15 karya Al Hafidz ibnu Katsir rahimahullah).

(Ustadz Badru Salam, Lc)

‪Oleh: Pusat Buku Sunnah

💬 Share yuk mudah2an teman anda mendapat faedah ilmu dari status yg anda bagikan dan menjadi pembuka pintu amal kebaikan bagi anda.. aamiin
__________________________
✏ Mau Dapat Ilmu? Gabung Yuk bersama Grup Untaian Penuh Hikmah PBS di

✅ FB : Pusat Buku Sunnah
🌎 Web : PusatBukuSunnah.com
📱 Line Id: pusatbukusunnah
📷 IG : pusatbukusunnah
📱 BB: 54E152AD ( Pin Bb ke Empat)
📱 WA: 08982282284 ketik [Gabung PBS10 Nama ]

0 komentar

Kisah Subuh di Turki

Sekilas informasi📢📢📢 Shubuh Mubarokah...
DAHSYATNYA SHALAT SUBUH MENJADIKAN TURKI TANPA HUTANG
Bismillahirrahmaanirrahiim
Prof.Didin Hafiduddin saat berceramah di Masjid Al Irsyad (Jumat 24 /04/15) menceriterakan KEBANGKITAN BANGSA TURKI sekarang ini. Pembangunan Nasional Luar Biasa
tanpa bantuan Pinjaman dari Luar Negeri (Bandingkan dg Indonesia yg hutangnya
nomer 5 di Dunia, sekarang mencapai Rp 3000 Triliun )
Pemerintah Turki saat ini mencanangkan 3 Program Nasional
1.Gerakan Sholat Subuh Berjamaah di Masjid
2.Gerakan Ekonomi Ummat (banyak dikuasai orang Muslim)
3.Gerakan Infaq sodaqoh
GERAKAN SHOLAT SUBUH DIMASJID, memperoleh sambutan luar biasa dan MENCENGANGKAN..!
Beliau menyaksikan bahwa SHOLAT SUBUH SAMA SEPERTI SHOLAT JUMAT. Membludak, Penuh !!! Luar biasa dan yg lebih mencengangkan, para Remaja Turki ke masjid dg mobil-mobil mewah di parkir di halaman masjid.
Ternyata SHOLAT SUBUH BERJAMAAH DI MASJID MENAMPILKAN RAHASIA YANG MENAKJUBKAN
Berbagai Kesulitan Nasional Turki, nampaknya bisa dipecahkan dengan Mulus dan Lancar karena adanya shalat subuh yang berjamaah tsb.
Ceritera Prof. Didin Hafiduddin ini tentang PERUBAHAN SOSIAL DI TURKI
Mengingatkan Sejarah yang diceriterakan di di dalam Al Qur’an bahwa subuh ternyata juga menjadi WAKTU PERALIHAN DARI ERA JAHILIYAH MENUJU KE ERA TAUKHID, dimana Kaum ‘Ad, Tsamud, & kaum durhaka lainnya
dilibas pada waktu subuh dan sebagai penanda berakhirnya dominasi jahiliyah dan munculnya cahaya tauhid .
Banyak sekali hadits yang mendorong untuk melaksanakan shalat subuh, dan menyanjung mereka yang menjaganya. Rasullullah bersabda: " Dua rakaat fajar (shalat sunnah sebelum subuh) lebih baik dari dunia dan seisinya" (HR. Muslim) "
Dan jika mereka mengetahui apa yang tersimpan di dalam shalat subuh dan isya’ maka mereka akan mendatanginya walau dengan merangkak (HR. Bukhari),
Lalu……..
APA YG MENGHALANGI KITA SHOLAT SUBUH DI MASJID ...?
Shalat subuh merupakan sumber dari segala sumber cahaya di Hari Kiamat.
Di hari itu, semua sumber cahaya di dunia akan dipadamkan......! Kecuali Cahaya Subuh Berjamaah yang diberikan kepada orang orang Mukmin.
Rasullullah bersabda:"Berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang banyak berjalan dalam kegelapan (subuh dan Isya’) menuju masjid dengan cahaya yang sangat terang pada hari kiamat" (HR. Abu Dauwud, At-Tirmidzi
Turki telah menjadi contoh yang nyata...!
Bahwa sholat Subuh Berjamaah di Masjid memberi KEBERKAHAN ...!
Kita tidak perlu malu meniru Turki..!
Mari Menggalakkan Sholat Subuh Berjamaah di Masjid
In syaa Allah Ummat Islam Indonesia akan mengalami KEJAYAAN ..!

0 komentar

Satu Lagi Kisah Penuh Hikmah Umar bin Khattab r.a

Ini adalah sebuah penggalanisi buku Al Bidayah wan Nihayah Masa Khulafaur Rasyidin, yang akan menukilkan beberapa kisah, perkataan dan tindak-tanduk Umar bin Khaththab sebagai seorang khalifah atau Amirul Mukminin (pemimpin umat Islam) ketika itu yang penuh hikmah. Tulisan ini sangat menggugah perasan yang membaca, tentang bagaimana seorang pemimpin yang sangat takut pada Allah, hidup sangat bersahaja, berhati lembut terhadap umatnya,dan memegang teguh amanah kepemimpinannya dengan sangat luar biasa.
Umar pernah berkata, Tidak halal bagiku harta yang diberikan Allah kecuali dua pakaian. Satu untuk dikenakan di musim dingin dan satu lagi digunakan untuk musim panas. Adapun makanan untuk keluargaku sama saja dengan makanan orang-orang Quraisy pada umumnya, bukan standar yang paling kaya di antara mereka. Aku sendiri hanyalah salah seorang dari kaum muslimin.
Jika menugaskan para gubernurnya, Umar akan menulis perjanjian yang disaksikan oleh kaum Muhajirin. Umar mensyaratkan kepada mereka agar tidak menaiki kereta kuda, tidak memakan makanan yang enak-enak, tidak berpakaian yang halus, dan tidak menutup pintu rumahnya kepada rakyat yang membutuhkan bantuan. Jika mereka melanggar pesan ini maka akan mendapatkan hukuman.
Jika seseorang berbicara kepadanya menyampaikan berita, dan ia berbohong dalam sepatah atau dua patah kalimat, maka Umar akan segera menegurnya dan berkata, Tutup mulutmu, tutup mulutmu! Maka lelaki yang berbicara kepadanya berkata, Demi Allah sesungguhnya berita yang aku sampaikan kepadamu adalah benar kecuali apa yang engkau perintahkan aku untuk menutup mulut.
Muawiyah bin Abi Sufyan berkata,Adapun Abu Bakar, ia tidak sedikitpun menginginkan dunia dan dunia juga tidak datang menghampirinya. Sedangkan Umar, dunia datang menghampirinya namun dia tidak menginginkannya, adapun kita bergelimang dalam kenikmatan dunia.
Pernah Umar dicela dan dikatakan kepadanya, Alangkah baik jika engkau memakan makanan yang bergizi tentu akan membantu dirimu supaya lebih kuat membela kebenaran. Maka Umar berkata, Sesungguhnya aku telah ditinggalkan kedua sahabatku (yakni Rasulullah dan Abu Bakar) dalam keadaan tegar (tidak terpengaruh dengan dunia), maka jika aku tidak mengikuti ketegaran mereka, aku takut tidak akan dapat mengejar kedudukan mereka.
Beliau selalu memakai jubah yang terbuat dari kulit yang banyak tambalannya, sementara beliau adalah khalifah, berjalan mengelilingi pasar sambil membawa tongkat di atas pundaknya untuk memukul orang-orang yang melanggar peraturan. Jika beliau melewati biji ataupun lainnya yang bermanfaat, maka beliau akan mengambilnya dan melemparkannya ke halaman rumah orang.
Anas berkata, Antara dua bahu dari baju Umar, terdapat empat tambalan, dan kainnya ditambal dengan kulit. Pernah beliau khutbah di atas mimbar mengenakan kain yang memiliki 12 tambalan. Ketika melaksanakan ibadah haji beliau hanya menggunakan 16 dinar, sementara beliau berkata pada anaknya, Kita terlalu boros dan berlebihan.
Beliau tidak pernah bernaung di bawah sesuatu, tetapi beliau akan meletakkan kainnya di atas pohon kemudian bernaung di bawahnya. Beliau tidak memiliki kemah ataupun tenda.
Ketika memasuki negeri Syam saat penaklukan Baitul Maqdis beliau mengendarai seekor unta yang telah tua. Kepala beliau yang botak bersinar terkena matahari. Waktu itu beliau tidak mengenakan topi ataupun surban. Kaki beliau menjulur ke bawah kendaraan tanpa pelana. Beliau membawa satu kantong yang terbuat dari kulit yang digunakan sebagai alas untuk tidur jika beliau berhenti turun.
Ketika singgah di Baitul Maqdis beliau segera memanggil pemimpin wilayah itu dan berkata, Panggil kemari pimpinan wilayah ini. Orang-orang segera memanggilnya, ketika hadir Umar berkata padanya, Tolong cucikan bajuku ini sekaligus jahitkan dan pinjami aku baju. Maka dibawakan kepada beliau baju yang terbuat dari katun. Beliau bertanya, Apa ini? Dikatakan kepadanya bahwa baju ini terbuat dari katun. Beliau bertanya kepada mereka, Apa itu katun? Mereka memberitahukan kepadanya apa itu katun. Umar segera melepas bajunya lalu mencuci kemudian menjahitnya sendiri.
Diriwayatkan dari Anas ia berkata, Aku pernah bersama Umar, kemudian beliau masuk ke kebun untuk buang hajat, sementara jarak antara diriku dan dirinya hanyalah pagar kebun, aku dengar ia berkata pada dirinya sendiri, Hai Umar bin al-Khaththab, engkau adalah Amirul Mukminin, ya…engkau adalah Amirul mukminin! Demi Allah takutlah engkau kepada Allah hai Ibn al-Khaththab, jika tidak Allah pasti akan mengazabmu.
Disebutkan bahwasanya Umar pernah membawa tempat air di atas pundaknya. Sebagian orang mengkritiknya, namun beliau berkata, Aku terlalu kagum terhadap diriku sendiri oleh karena itu aku ingin menghinakannya. Pernah beliau melaksanakan shalat Isya bersama kaum muslimin, setelah itu beliau segera masuk ke rumah dan masih terus mengerjakan shalat hingga fajar tiba.
Pada tahun paceklik dan kelaparan, beliau tidak pernah makan kecuali roti dan minyak hingga kulit beliau berubah menjadi hitam, beliau berkata, Akulah sejelek-jelek penguasa apabila aku kenyang sementara rakyatku kelaparan.
Pada wajah beliau terdapat dua garis hitam disebabkan banyak menangis. Terkadang beliau mendengar ayat Allah dan jatuh pingsan karena perasaan takut, hingga terpaksa dibopong ke rumah dalam keadaan pingsan. Kemudian kaum muslimin menjenguk beliau beberapa hari, padahal beliau tidak memiliki penyakit yang membuat beliau pingsan kecuali perasaan takutnya.
Thalhah bin Ubaidillah berkata, Suatu ketika Umar keluar dalam kegelapan malam dan masuk ke salah satu rumah, maka pada pagi hari aku mencari rumah tersebut dan aku datangi, ternyata dalam rumah itu terdapat seorang perempuan tua yang buta sedang duduk. Aku tanyakan kepadanya, Mengapa lelaki ini (Umar) datang ke rumahmu? Wanita itu menjawab, Ia selalu mengunjungiku setiap beberapa hari sekali untuk membantuku membersihkan dan mengurus segala keperluanku. Aku berkata kepada diriku, Celakalah dirimu wahai Thalhah, kenapa engkau memata-matai Umar?
Aslam Maula Umar, pengawal Umar, berkata, Pernah datang ke Madinah satu rombongan saudagar, mereka segera turun di mushalla, maka Umar berkata kepada Abdurrahman bin Auf, Bagaimana jika malam ini kita menjaga mereka? Abdurrahman berkata, Ya, aku setuju! Maka keduanya menjaga para saudagar tersebut sepanjang malam sambil shalat. Namun tiba-tiba Umar mendengar suara anak kecil menangis, segera Umar menuju tempat anak itu dan bertanya kepada ibunya, Takutlah engkau kepada Allah dan berbuat baiklah dalam merawat anakmu. Kemudian Umar kembali ke tempatnya. Kemudian ia mendengar lagi suara bayi itu dan ia mendatangi tempat itu kembali dan bertanya kepada ibunya seperti pertanyaan beliau tadi.
Setelah itu Umar kembali ke tempatnya semula. Di akhir malam dia mendengar bayi tersebut menangis lagi. Umar segera mendatangi bayi itu dan berkata kepada ibunya, Celakalah engkau, sesungguhnya engkau adalah ibu yang buruk, kenapa aku mendengar anakmu menangis sepanjang malam? Wanita yang tidak mengenali Umar itu menjawab, Hai tuan, sesungguhnya aku berusaha menyapihnya dan memalingkan perhatiannya untuk menyusu tetapi dia masih tetap ingin menyusu. Umar bertanya, Kenapa engkau akan menyapihnya? Wanita itu menjawab, Karena Umar hanya memberikan jatah makan terhadap anak-anak yang telah disapih saja. Umar bertanya kepadanya, Berapa usia anakmu? Dia menjawab baru beberapa bulan saja. Maka Umar berkata, Celakalah engkau kenapa terlalu cepat engkau menyapihnya? Maka ketika shalat subuh bacaan Umar nyaris tidak terdengar jelas oleh para makmum disebabkan tangisnya.
Beliau lalu berkata, Celakalah engkau hai Umar berapa banyak anak-anak bayi kaum muslimin yang telah engkau bunuh. Setelah itu ia menyuruh salah seorang pegawainya untuk mengumumkan kepada seluruh orang, Janganlah kalian terlalu cepat menyapih anak-anak kalian, sebab kami akan memberikan jatah bagi setiap anak yang lahir dalam Islam. Umar segera menyebarkan berita ini ke seluruh daerah kekuasaannya.
Aslam berkata, Pernah suatu malam aku keluar bersama Umar ke luar kota Madinah. Kami melihat ada sebuah tenda dari kulit, dan segera kami datangi, ternyata di dalamnya ada seorang wanita sedang menangis. Umar bertanya tentang keadaannya, dan dia menjawab, Aku adalah seorang wanita Arab yang akan bersalin (melahirkan) sedangkan aku tidak memiliki apapun. Umar menangis dan segera berlari menuju rumah Ummu Kaltsum binti Ali bin Abi Thalib, istrinya, dan berkata, Apakah engkau mau mendapatkan pahala yang akan Allah karuniakan kepadamu? Segera Umar memberitakan padanya mengenai wanita yang dilihatnya tadi, maka istrinya berkata, Ya, aku akan membantunya. Umar segera membawa satu karung gandum beserta daging di atas bahunya, sementara Ummu Kaltsum membawa peralatan yang dibutuhkan untuk bersalin, keduanya berjalan mendatangi wanita tersebut. Sesampainya di sana Ummu Kaltsum segera masuk ke tempat wanita itu, sementara Umar duduk bersama suaminya, yang tidak mengenal Umar, sambil berbincang-bincang.
Akhirnya wanita itu berhasil melahirkan seorang bayi. Ummu Kaltsum berkata kepada Umar, Wahai Amirul Mukminin sampaikan berita gembira kepada suaminya bahwa anaknya yang baru lahir adalah lelaki. Ketika lelaki itu mendengar perkataan Amirul Mukminin ia merasa sangat kaget dan minta maaf kepada Umar. Namun Umar berkata kepadanya, Tidak mengapa. Setelah itu Umar memberikan kepada mereka nafkah dan apa yang mereka butuhkan lantas beliaupun pulang.
Aslam berkata, Suatu malam aku keluar bersama Umar bin al-Khaththab ke dusun Waqim. Ketika kami sampai di Shirar, kami melihat ada api yang dinyalakan. Umar berkata, Wahai Aslam di sana ada musafir yang kemalaman, mari kita berangkat menuju mereka. Kami segera mendatangi mereka dan ternyata di sana ada seorang wanita bersama anak-anaknya sedang menunggu periuk yang diletakkan ke atas api, sementara anak-anaknya sedang menangis. Umar bertanya, Assalamu alaiki wahai pemilik api. Wanita itu menjawab, Wa alaika as-Salam, Umar berkata, Kami boleh mendekat? Dia menjawab, Silahkan! Umar segera mendekat dan bertanya, Ada apa gerangan dengan kalian? Wanita itu yang juga tak mengenali Umar menjawab, Kami kemalaman dalam perjalanan serta kedinginan. Umar kembali bertanya, Kenapa anak-anak itu menangis? Wanita itu menjawab, Karena lapar. Umar kembali bertanya, Apa yang engkau masak di atas api itu? Dia menjawab, Air agar aku dapat menenangkan mereka hingga tertidur. Dan Allah kelak yang akan jadi hakim antara kami dengan Umar.
Maka Umar menangis dan segera berlari pulang menuju gudang tempat penyimpanan gandum. Ia segera mengeluarkan sekarung gandum dan satu ember daging, sambil berkata, Wahai Aslam naikkan karung ini ke atas pundakku. Aslam berkata, Biar aku saja yang membawanya untukmu. Umar menjawab apakah engkau mau memikul dosaku kelak di hari kiamat? Maka beliau segera memikul karung tersebut di atas pundaknya hingga mendatangi tempat wanita itu. Setelah meletakkan karung tersebut beliau segera mengeluarkan gandum dari dalamnya dan memasukkannya ke dalam periuk. Setelah itu ia memasukkan daging ke dalamnya. Umar berusaha meniup api di bawah periuk hingga asap menyebar di antara jenggotnya untuk beberapa saat. Setelah itu Umar menurunkan periuk dari atas api dan berkata, Berikan aku piring kalian! Setelah piring diletakkan segera Umar menuangkan isi periuk ke dalam piring itu dan menghidangkannya kepada anak-anak wanita itu dan berkata, Makanlah! Maka anak-anak itu makan hingga kenyang, wanita itu berdoa untuk Umar agar diberi ganjaran pahala sementara dia sendiri tidak mengenal Umar.
Umar masih bersama mereka hingga anak-anak itu tertidur pulas. Setelah itu Umar memberikan kepada mereka nafkah lantas pulang. Umar berkata kepadaku, Wahai Aslam sesungguhnya rasa laparlah yang membuat mereka begadang dan tidak dapat tidur.
Semoga sepenggal kisah yang penuh hikmah kehidupan Umar bin Khattab sewaktu menjadi khalifah ini bermanfaat.

 http://kisahislami.com/satu-lagi-kisah-penuh-hikmah-umar-bin-khattab-r-a/   Jumat Jam 14:30 13 Sept 2013

0 komentar
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. SABILUNA - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger